Sunday, 31 January 2016

NENEK PENJAGA WAHYU

Tahukah Anda, Alquran diturunkan dengan 7 macam cara baca? Atau dikenal dengan Qiraat Sab’ah (qiraat tujuh). Disebut Qiraat Tujuh karena ada tujuh Imam Qiraat yang terkenal. Masing-masing memiliki langgam bacaan tersendiri. Tiap Imam Qiraat memiliki dua orang murid yang bertindak sebagai perawi (periwayat). Tiap perawi tersebut juga memiliki perbedaan dalam cara membaca Alquran sehingga ada empat belas cara membaca Alquran yang masyhur. Apa yang kita baca dan terkenal di masyarakat kita adalah bacaan riwayat Hafs dari Ashim.
Hmm.. rada berat? Loading.. bentar, kita lanjut lagi ya
Menghafalkan Alquran –dengan satu riwayat saja- bukanlah perkara mudah. Tak banyak orang yang memiliki tekad dan mampu konsisten menjaga semangat sampai berhasil menghafalkan Alquran sempurna 30 juz. Menghafalkan Kitabullah ini butuh ketekunan. Kita bisa lihat mereka yang memulai menghafal Alquran. Pertama-tama menghafal beberapa ayat kemudian terkumpul menjadi satu surat. Ayat dan surat yang telah dihafal terus diulang-ulang sambil menambah hafalan yang baru. Keadaan tersebut terus berulang hingga beberapa bulan atau tahun ke depan. Wajar kalau penghafal Alquran begitu dihargai.
Itu baru proses menghafalkan satu riwayat, bagaimana kalau lebih dari satu riwayat? Tentu lebih sulit lagi.
Ada seorang wanita, namanya Ummu as-Saad binti Muhammad Ali Najm. Ia adalah seorang ulama wanita penghafal 10 riwayat bacaan Alquran. Seorang wanita di zaman modern ini yang sangat terkenal di bidang qiraat.
Masa Kecilnya
Ummu Saad dilahirkan pada 11 Juli 1925 di Desa Bandariyah, sebuah desa yang terletak di utara Kota Kairo, Mesir. Ia kehilangan penglihatannya di usia muda. Keluarganya berusaha mengobati matanya dengan pengobatan tradisional yang dikenal di daerah tersebut. Namun sayang, upaya mereka malah membuat Ummu Saad buta total.Ummu Saad
Kebiasaan masyarakat pedesaan di sana, apabila ada seorang anak yang buta, maka mereka mengkhidmatkan sang anak secara total untuk Alquran. Tentu ini kebiasaan yang baik, anak yang berkekurangan tidak diciutkan mentalnya dengan mengemis di jalanan atau hal-hal buruk lainnya. Ia dibesarkan dan dihibur hatinya dengan Alquran yang menyejukkan hati. Alquran yang mulia akan mewarisi kemuliaan untuk mereka. Umur 15 tahun, Ummu Saad berhasil mengkhatamkan hafalannya. Selanjutnya, Ummu Saad tinggal di Kota Iskandariyah, Mesir.
Berkhidmat Untuk Alquran
Setelah menghafalkan Alquran, Ummu Saad semakin giat menambah khazanah pengetahuannya tentang kitabullah. Ia mendatangi seorang ulama wanita, Nafisah binti Abu Ala –ulama Alquran di zamannya- untuk belajar Qiraah 10. Syaikhah Nafisah mensyaratkan suatu hal yang berat bagi siapa yang ingin mempelajari Qiraah 10. Syaratnya adalah mereka tidak boleh menikah selama-lamanya. Menurutnya, dengan menikah, para wanita akan tersibukkan dengan rumah tangga, hingga mereka luput dari 10 riwayat hafalan Alquran yang mereka tekuni. Tentu ini adalah syarat yang tidak dibenarkan syariat dan tidak boleh dipenuhi.
Nafisah sendiri teguh dengan pendiriannya. Dia tidak menikah, mesikupun banyak tokoh yang hendak menikahinya. Ia menyandang status gadis hingga wafat di usia 80 tahun. Syarat berat dari Syaikhah Nafisah diterima oleh Ummu Saad. Ia siap mengabdikan hidupnya untuk menjaga 10 riwayat Alquran tersebut.
Di usia 23 tahun, Ummu Saad telah berhasil menghafalkan 10 riwayat bacaan Alquran. Sebagai bukti kokohnya hafalannya, Syaikhah Nafisah pun memberikan ijazah pengakuan kepadanya.
Ummu Saad mengatakan, “Selama 60 tahun; menghafal, membaca, mengulang-ulang hafalan Alquran, membuatku tidak lupa sedikit pun bagian Alquran. Aku ingat setiap ayat. Tahu surat dan juz dari ayat tersebut. Tahu detil ayat-ayat yang mirip (atau serupa) dengan ayat lainnya. Dan aku tahu bagaimana membaca dengan setiap riwayat bacaan (langgam)ayat tersebut (dalam setiap qiraat). Aku merasakan betapa aku menghafalkan Alquran sebagaimana aku menghafal namaku sendiri. Aku tidak membayang-bayangkan karena lupa, satu huruf pun aku tidak lupa dan keliru pengucapannya. Aku tidak mengetahui ilmu lain selain Alquran dan qiraatnya. Aku tidak pernah menghafal, belajar, atau bahkan mendengar pelajaran selain Alquran al-Karim, matan ilmu qiraat, dan tajwid. Selain itu, aku tidak mengetahui bidang ilmu lainnya.”
Dari sini kita bisa mengetahui betapa murninya bacaan Alquran Ummu Saad karena pikirannya tidak terpengaruh dengan ilmu-ilmu lainnya.
Ummu Saad Menikah
Ummu Saad menikah dengan seorang murid terdekatnya, Syaikh Muhammad Farid Nu’man, seorang qori terkemuka di Iskandariyah. Ummu Saad mengtakan, “Aku tidak bisa memenuhi janjiku yang telah kuucapkan kepada guruku -Syaikhah Nafisah- untuk tidak menikah. Muhammad Farid, biasa menyetorkan hafalannya padaku dengan berbagai qiraat. Aku pun tertarik padanya. Sama sepertiku, ia juga mengalami kebutaan dan mengahfal Alquran sejak kecil. Aku mengajarinya selama 5 tahun lamanya. Setelah ia menyelesaikan belajar 10 qiraat dan mendapatkan riwayat dariku, ia pun melamarku. Dan aku menerimanya.”
Keduanya telah mengarungi bahtera rumah tangga selama 40 tahun, namun belum juga dikaruniai buah hati. Ummu Saad senantiasa berprasangka baik kepada Allah dan mengambil hikmah dari apa yang ia alami. Di tengah kekurangan tersebut, ia berucap, “Alhamdulillah.. Aku merasa bahwa Allah memilihku untuk selalu berada dalam kebaikan. Mungkin, sekiranya aku hamil aku akan sibuk dengan anak-anak dan terluput dari Alquran. Lalu hafalanku hilang”.
Jalur Periwayatannya
Seseorang patut berbangga ketika ia mempelajari Alquran, kemudian bacaannya telah diakui kefasihannya oleh gurunya yang memegang riwayat qiraat. Sehingga kefasihannya mendapat pengakuan sebagaimana (mirip) bacaan ketika Alquran diturunkan kepada Nabi ﷺ dari Allah ﷻ.
Berikut silsilah riwayat bacaan Alquran Ummu Saad: qiraat 10 Ummu Saad dari asy-Syathibiyyah dan ad-Durrah: Syaikhah Nafisah binti Abu al-Ala dari Abdul Aziz Ali Kahil dari Abdullah ad-Dasuqi dari Syaikh Ali al-Hadadi –Syaikhul Qurra di negeri Mesir- dari Syaikh Ibrahim al-Ubaidi dari Syaikh al-Jami’ al-Azhar, Muhammad bin Hasan as-Samnudi dari Ali ar-Rumaili dari Syaikh Muhammad bin Qasim al-Baqri dari Syaikh Abdurrahman bin Syuhadzah al-Yamani dari Ali bin Ghanim al-Maqdisi dari Muhmmad bin Ibrahim as-Samdisi dari asy-Syihab Ahmad bin Asad al-Amyuthi dari Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin al-Jazari asy-Syafi’i dari Abdurrahman bin Ahmad al-Baghdadi dari Muhammad bin Ahmad ash-Sha-igh dari Ali bin Syuja’ul Kamal adh-Dharari (Imam asy-Syathibi) dari Imam Abi al-Qasim dari Imam Ali bin Muhammad bin Hudzail al-Balansi dari Abi Dawu Sulaiman bin Najah dari Imam Abi Amr ad-Dani dari Thahir bin Ghalbun dari Ali bin Muhammad al-Hasyimi dari Ahmad bin Shal al-Asynani dari Abi Muhammad Ubaid bin ash-Shabah dari Hafsh bin Sulaiman dari Ashim bin Bahdalah bin Abi an-Najud dari Abi Abdurrahman Abdullah bin Hubaib as-Silmi dari Utsman dan Ali dan Abdullah bin Mas’ud dan Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit dari Rasulullah ﷺ yang menerima wahyu dari perantara Malaikat Jibril dari Allah ﷻ.
Itulah rantai periwayat Ummu Saad bersambung hingga Rasulullah ﷺ.
Murid-muridnya
Banyak pelajar Alquran yang mengambil riwayat darinya. Baik tua maupun muda, laki-laki atau perempuan, kalangan insinyur yang mendalami Alquran, demikian juga dokter-dokter, para guru, dosen-dosen, mahasiswa, dll.
Setiap murid, ia berikan waktu dan perhatian khusus. Masing-masing memiliki waktu tidak lebih dari 1 jam setiap harinya. Mereka membaca, kemudian dikoreksi oleh Ummu Saad kualitas bacaan surat yang telah mereka hafalkan. Ia perbaiki kesalahan-kesalahan muridnya juz per juz hingga selesai 30 juz atas bimbingannya. Koreksi bacaan atau tahsin al-qiraah dilakukan per qiraat. Sedetil itulah ia membimbing murid-muridnya.
Setiap selesai satu qiraat, ia berikan ijazah tertulis sebagai pengakuan atas kualitas bacaan sang murid. Ijazah tersebut juga sebagai bukti bahwa sang murid telah membaca Alquran di hadapannya dengan sempurna, benar, dengan detil tajwid yang tepat. Masya Allah… betapa waktunya ia dermakan untuk Alquran dan menjaga kalam ilahi.
Di antara murid-murid tersebut ada yang hanya mengambil satu qiraat. Sedikit di antara mereka yang mengambil 10 qiraat.
Murid-muridnya yang terkenal adalah dr. Ahmad Nu’aini’, Syaikh Miftah as-Sulthani, dan pengajar-pengajar Ma’had al-Qiraat di Iskandariyah.
Perjalanan Ke Hijaz
Salah seorang murid Ummu Saad menghadiahinya tiket perjalan ke tanah haram untuk menunaikan haji dan umrah. Sang murid juga menjamunya di sana. Dalam kesempatan itu pula, Ummu Saad memberikan sanad bacaan kepada puluhan penghafal Alquran dari berbagai negara. Seperti Arab Saudi, Pakistan, Sudan, Palestina, Libanon, Chad, dan Afganistan. Ijazah termuda diberikan kepada salah seorang penghafal Alquran dari Arab Saudi yang baru berusia 10 tahun.
Wafatnya Sang Penjaga Alquran
Ummu Saad wafat di waktu fajar, tanggal 16 Ramadhan 1427 H bertepatan dengan 9 Oktober 2006 M. Allah ﷻ menganugerahkannya usia cukup panjang, 81 tahun. Jenazahnya dishalatkan di wilayah Bahri, Iskandariyah, Mesir.
Semoga Allah ﷻ merahmati Ummu Saad, membalas segala usaha kebaikannya dan kesungguhannya dalam menjaga Alquran al-Karim. Sedari kecil, ia meng-akrabi Alquran. Menekuni cabang-cabang kelimuannya. Puluhan tahun berlalu dari usianya, di usia senja, ia tetap bersemangat mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk Alquran.
Penutup
Semoga kisah perjuangan Ummu Saad dalam menghafal, menjaga, dan mengajarkan Alquran mampu memberikan inspirasi kepada kita untuk menghafalkan Alquran, mempelajari hukum-hukumnya, mengamalkan dan mendakwahkannya.
Murid-murid Ummu Saad dengan beragam profesi mereka mengajarkan kepada kita, bahwa Alquran pun bisa dihafalkan oleh mereka yang sibuk.
Sumber:
– http://islamstory.com/ar/

Wednesday, 27 January 2016

Cerita Sepasang Remaja Di Malam Pertama Pengantin Baru 2013 (Sambungan)

Cerita Sepasang Remaja Di Malam Pertama Pengantin Baru 2013 (Sambungan)

Kisah malam pertama yang Pak Lang paparkan pada Rabu, 20 November 2013 disambung kembali. Semoga para remaja sekalian dapat mengambil manfaat dari kisah ini. 
Sila baca semula dari awal ..........
 

Banyak juga cerita yang Pak Lang dengar tentang remaja yang soleh (yang baik, warak dan beriman). Kisah mereka ini agak lucu. Maklumlah remaja yang tidak terdedah dengan maksiat atau mungkar. Mereka jadi manusia yang tidak pandai dalam hal berkaitan seks atau hubungan suami isteri. Eloklah begitu! Cuma ibu bapa pasangan pengantin sebegini kenalah pandai memahamkan mereka agar bahtera rumah tangga yang dilayari dapat dimulakan dengan penuh indah dan bahagia.

Sememangnya tidaklah dinafikan - terutama dalam jemaah islam - adanya remaja yang begitu bersemangat mentaati perintah Allah. Meraka sangat serius dalam menghayati syariat Allah. Jadilah mereka orang yang warak - yang sangat menjaga halal haram dalam segenap sudut kehidupan atau pergaulan. Bila tiba masanya untuk mereka berkahwin, mereka akan pastikan calon isterinya atau suaminya adalah sealiran dengan jemaah yang diyakininya.

Mereka tidak terlibat sama sekali dalam pergaulan bebas, berfoya-foya dan sebagainya. Hidup mereka penuh dengan aktiviti sembahyang berjemaah, pengajian agama, usrah, qiamullail, dakwah, menerbitkan bahan bacaan islami dan lain-lain aktiviti yang sangat positif. Justeru, mereka sangat berhati-hati menggunakan internet. Sangatlah mereka berusaha mengawal diri agar tidak memandang yang haram yang biasa terdapat di media internet.

Cerita malam pertama ini mengisahkan sepasang pengantin baru yang mengalami kebuntuan komunikasi. Lebih tepatnya kedua-duanya beku dan kaku ketika berdua-duaan di kamar pengantin. Apa yang terjadi kedua-duanya saling membisu. Tidak ada suara yang terbit dari mulut masing-masing. Suara seolah-olah tersekat di kerongkong. Suasana malam kekal sunyi. Hanya yang kedengaran ialah suara jengkerik dan burung 'segan' berbunyi yang menggerunkan.

Itulah kamar pengantin sepasang remaja yang benar-benar tidak terdedah dengan kisah seks bebas atau sebarang pengetahuan mengenai kehidupan yang melanggar batasan syariat.

Pengantin lelaki bernama Hisyam (bukan nama sebenar) manakala pengantin perempuan bernama Munirah (juga bukan nama sebenar). Mereka berkahwin atas dasar taat dengan pilihan emak ayah masing-masing. Mereka bersetuju kerana calon suami atau isteri yang dinyatakan kedua orang tua mereka adalah remaja yang juga sangat berakhlak dan komited dengan jemaah pilihan mereka.

Hisyam masuk ke bilik pengantin tanpa dapat mengucapkan salam. Suaranya tersekat, lidahnya kelu. Isterinya Munirah yang baru dinikahi pagi tadi telah merebahkan diri. Berselimut litup seluruh tubuh dari hujung rambut ke hujung kaki.

“Malu agaknya. Maklumlah malam pertama…” Hisyam berbisik di dalam hatinya tanpa dia sedar siisteri yang di dalam selimut masih belum tidur.

Hisyam pergi ke sudut bilik. Dalam samar lampu bilik yang penuh romantik itu, dia menunaikan solat taubat dan menutupnya dengan doa yang panjang. Dia merintih kepada Allah swt agar dikurniakan isteri yang solehah dengan harapan mereka dipimpinNya ke jalan yang benar. Dia mengharapkan lahirnya rumah tangga yang tertegak sistem hidup yang membesarkan Allah dan Rasul.

Sebaik selesai, Hisyam melirik sekilas kepada isteri yang masih di dalam selimut. Masih tidak ada sebarang gerak. Bunyi nafas pun tidak kedengaran! Hatinya terdorong untuk menyentuh atau mengejutkannya tetapi dia juga rasa malu. Tangannya menggeletar. Hasrat itu diundurkannya. 

Lantas, dia pun mematikan lampu dan terus mengucap basmalah lalu berbaring di atas katil di sebelah siisteri. Tibat-tiba Hisyam terdengar suara merdu isterinya penuh romantis memecah kesunyian bilik pengantin mereka. “Buah papaya sudah masak ranum, bilakah tupai nak datang merasa ?”

“Eh, eh!! apa cerita ni?” terperanjatnya Hisyam di dalam hati. Hampir dia bersuara menegur isterinya itu. Tapi diundurkan juga hasratnya kerana menyangka siisteri sedang mengigau. 
"Oh, agaknya isteri ku teringat kampung halaman. Kasihan...sampai mengigau? Takpelah, biarlah dia tidur" bisik hatinya yang sedang berusaha memahami hasrat siisteri. 

Hisyam tidak dapat melelapkan matanya. Dia teringat 'igauan' isterinya tadi. Dia mengambil kesimpulan akan membawa Munirah, isterinya mencari buah papaya seperti yang diigaukan itu. Maklumlah baru berkahwin - terasa sangat mahu melayan apa jua kehendak isteri. Hisyam tertidur bungkam dalam keadaan muka yang polos. Dengkuran nipisnya didengar Munirah. 

Siisteri yang belum tidur, sedang memasang telinga mendengar apa jua gerakan daripada sisuami. Dia menunggu suami mendekati dan menyentuhnya. Inikan malam pertama mereka. Dia pun tidak tahu apakah yang patut dilakukannya kepada suami. Dia hanya tahu, dia perlu taat dan patuh pada suami. Apa juga hajat suami, dia akan berusaha menunaikannya. Dia rela apa saja asalkan ianya adalah kehendak Allah dan Rasul termasuklah menyerahkan kehormatan diri yang sangat dipeliharanya selama ini. 

Mendengar dengkuran suaminya, Munirah agak kecewa, tetapi sempat dia memujuk diri dengan bersangka baik dengan suaminya. Adakah suaminya tidak mendengar ungkapannya tentang 'buah papaya masak' tadi atau suaminya tidak memahami kiasan kata-katanya itu? Itulah yang difikirkannya di dalam selimut itu. 

Munirah membuka selimut perlahan-lahan, khuatir gerakannya mengejutkan suaminya. Dia memandang wajah polos suaminya puas-puas. Sudah halal baginya memandang wajah lelaki ajnabi kerana lelaki yang sedang tidur itu adalah suaminya yang sah. "Lucu juga wajah suami aku ini...tidur macam gaya adik aku!!" Bisiknya dalam hati. Dia teringatkan adik bongsunya, Syafiq yang gaya tidurnya seperti gaya suaminya tidur ketika itu. 

Munirah tidak dapat menahan sabar. Rasa hatinya mendorong-dorong untuk dia menyentuh wajah suaminya itu. Tapi entah kenapa, tangannya gementar terlalu amat. Dadanya juga berombak kencang. Tidak tahu apa yang ditakutinya dan apa pula yang digeruninya. Dia hanya sedang berdepan dengan seorang suami yang sedang tidur. Cuma hatinya sangat yakin, dia sedang melakukan sesuatu yang diredhai Tuhan. Mereka suami isteri halal antara satu dengan yang lain. Mereka berdua bukan lagi orang asing. Mereka sudah sah sebagai suami isteri. 

Setelah puas menahan gementar, berjaya juga Munirah menyentuh kulit muka suaminya itu. Terasa diganggu, Hisyam dalam tidurnya mengukir tanda tidak selesa pada gerak mulutnya. Munirah tersenyum sendirian. "Wah! macam gaya Syafiq bila kena ganggu waktu tidur!!" Sukanya Munirah melihat reaksi tanpa sedar suaminya itu. 

Sekali lagi dia menyentuh wajah suaminya. Kali ini walaupun tangannya masih gementar, dia dapat meletakkan hujung jari telunjuknya itu di pipi suaminya yang agak berisi itu. malah diusap-usapnya dua tiga kali. Kali ini - dalam keadaan masih tidur, Hisyam rupanya terasa ada gangguan yang ketara pada wajahnya. Tangannya diangkat untuk menepis 'sesuatu' pada mukanya. Munirah segera menarik tangannya agar tidak terkena tangan suaminya. 

"Alhamdulillah selamat!" Getus hatinya lagi sambil dia tersenyum sendirian. Munirah sudah berani. Tangannya sudah tidak gementar. Sekali lagi dicubanya menyentuh muka suaminya tetapi dia mengubah fikiran. Lebih baik dia membelai rambut suaminya - sama seperti yang selalu dilakukannya pada adiknya Syafiq. Tindakannya itu tidak mengundang apa-apa reaksi Hisyam. 

Munirah jadi makin berani. "Wah! terima kasih Tuhan!" Katanya dalam hati. Rasa bahagia dengan apa yang dilakukannya itu mula menyelinap masuk ke hatinya. Dia yakin suaminya tidak akan memarahinya malah mungkin menyukai tindakannya sedemikian. Kali ini Munirah bertekad untuk mendekatkan hidungnya ke wajah suaminya. 

Tetapi belum pun sempat dia melakukannya, Hisyam yang masih nyenyak tidur, tiba-tiba mengalihkan badannya. Munirah yang sedang mendekatkan mukanya tidak sempat mengelak. Tangan Hisyam yang cuba menarik selimut ke badannya. tersentuh pada kepala Munirah. 

Hisyam terjaga! Matanya tidak dibuka sepenuhnya tetapi hanya dicelikkan separuh dan bersedia untuk ditutup tidur kembali. Tetapi sebaik mata kuyu itu melihat bayangan wanita di depannya, dia terlupa dia sudah berkahwin. Tentulah dia terperanjat yang amat sangat. Siapa pula wanita yang sedang tidur bersamanya di waktu tengah malam begitu. 

Matanya dibuka luas malah terbeliak terperanjat. Hisyam bahkan terduduk, terjaga dengan wajah rasa bersalah, malu dan hairan. "OH! rupanya aku memang sudah kahwin! Ini isteri aku!!" Itulah ungkapan hatinya memarahi diri. 

"Ma...maaa..aafkan Munirah ya abang!" Munirah tunduk malu tetapi ungkapan maafnya jelas menyelinapkan arus sejuk yang syahdu ke telinga dan terus ke hati Hisyam.  Hisyam makin kaku. Dia cuba senyum dan bercakap. Suaranya melekat di kerongkongan. "O..Ok! tak pe!!" itulah yang termampu keluar dari mulut Hisyam. 

Munirah mengambil keputusan mendekat kepada suaminya. Dihulurkan tangannya kepada Hisyam. Hisyam masih kaku. Dia tidak tahu apakah yang patut dilakukannya. "Abang! Munirah minta maaf sebab ganggu abang tidur!!" "Oh!! tidak mengapa, eloklah kejutkan abang!" Akhirnya Hisyam berjaya berkata-kata sebanyak itu walaupun tangannya masih belum menyambut tangan isterinya. 

Munirah akhirnya memegang tangan suaminya. Terasa ada gementar yang kuat pada tangan Hisyam. Munirah tahu, gementar itu juga berlaku padanya di awal tadi. Nanti ianya akan berkurangan. Munirah menggenggam tangan kanan Hisyam dengan kedua belah tangannya. Tangannya yang lembut itu sangat meruntun hati Hisyam. 

"Terima kasih Tuhan atas kurniaMu pada kami. Engkaulah yang menjodohkan kami, Engkaulah penentu segala-galanya untuk kami. Bantulah kami untuk terus mentaatiMu sehingga ke akhir hayat kami". Itulah munajat Hisyam - remaja yang baru bergelar suami yang kuat hubungan hatinya dengan Tuhan. Dia kembali tenang setelah mendapat jabatan tangan, salaman siisteri. Dia terasa macam bermimpi tadinya. 

Tiba-tiba Munirah tunduk lalu  mencium dan mengucup belakang tangan Hisyam. Berdebar gemuruh pula jantung Hisyam dengan tindakan Munirah itu. Sebaliknya Munirah kekal lama dalam keadaan tunduk sebegitu. Mulutnya masih mencium belakang tangan Hisyam. Genggamannya masih belum dilepaskan bahkan ianya makin erat.

Munirah berkata, "Abang tolong doakan saya ya! Doakan agar saya jadi isteri yang solehah, isteri yang tetap mengagung dan membesarkan Tuhan  dengan rasa takutkan Allah serta rindukan Baginda Rasulullah saw. Abang doakanlah Munirah di malam yang para malaikat menyaksikan kita berdua sebagai suami isteri" 

Hisyam pun mengangkat tangan kirinya lalu diletakkannya di atas ubun-ubun isterinya. Lalu dia pun mengungkapkan doa yang diaminkan oleh Munirah, 

"Ya Allah, ya Tuhan Kami, terima kasih atas kurniaanMu kepada kami dengan jodoh kami ini. Engkaulah Tuhan yang maha agung yang telah menyelamatkan kami sepanjang usia remaja kami untuk mentaatiMu. Terima kasih Tuhan kerana Engkaulah yang telah menunjuk jalan keselamatan ini untuk kami. Kalaulah tidak dengan pimpinanMu, nescaya telah lama kami terjerumus seperti remaja-remaja yang lain."

Ya Allah, kami berazam untuk menjadikan rumah tangga kami sebagai rumah tangga contoh di akhir zaman. Engkau bantulah kami ya Allah agar kami terpimpin melakukannya. Ya Allah ya Tuhan kami, Tuhan yang maha mendengar rintihan hati kami. Inilah malamnya engkau pertemukan kami walaupun sebelum ini kami tidak pernah saling mengenali. Berikanlah perasaan cinta, kasih dan sayang sesama kami atas dasar semata keranaMu Ya Allah."

"Engkaulah yang maha tahu betapa kami ingin terus mencari keredhaanMu. Engkau jadikanlah rumah tangga kami sebagai landasan untuk kami mencapai redhaMu. Engkau peganglah hati-hati kami, pandulah kami melepasi ranjau-ranjau kehidupan rumah tangga agar kami istiqamah dalam ibadah, dalam perjuangan dan dalam pengorbanan."

"Pimpinlah kami Ya Allah pada setiap waktu dan ketika agar kami sentiasa dapat menerima apa saja yang Engkau timpakan ke atas kami. Janganlah Engkau biarkan kami tanpa pimpinan kerana kami takut kami kecundang di pertengahan jalan."

"Tuhan, sesungguhnya kami lemah jika kami sendirian. Tolonglah kami Tuhan! Kami sangat perlukan orang yang boleh memimpin kami. Pertemukanlah kami dengan orang-orangMu Tuhan agar kami boleh terus membaiki diri dan terpimpin melawan nafsu dan syaitan. Ya Allah kabulkan permintaan kami.... Amin Ya rabbal 'Alamin"

Hisyam mengakhiri doa yang dibacanya sepenuh jiwa itu dengan mengucup ubun-ubun dan dahi isterinya. Air matanya bergenang dengan pelbagai perasaan yang berbaur. Munirah hanya mampu menangis teresak-esak. Dia terus tersembam di ribaan suaminya. Hatinya tersentuh dengan doa suaminya. Itulah harapannya selama ini dan suaminya telah ungkapkan satu doa yang sama seperti yang diharapkannya berlaku dalam perkahwinan mereka. 

Dia berjanji dengan Tuhan untuk benar-benar menjadi isteri yang solehah iaitu isteri yang bernilai tinggi di sisi Tuhan. Dia mahu mencatat sejarah sebagai seorang bidadari kepada suami dan sebagai seorang serikandi bersama suami membela Islam diakhir zaman. Dia tahu ujian dan cabaran pastinya akan datang silih berganti, tetapi dia menyerah segala-galanya kepada Allah. Jika dia tetap istiqamah, semoga apa yang dilaluinya nanti adalah peningkatan rohaniah yang berterusan. Itulah maksud kejayaan yang sebenarnya.

Demikianlah kisah Hisyam dan Munirah seadanya. Pak Lang ubah suai sedikit kisah ini untuk paparan dalam blog ini. Beruntunglah ibu bapa yang mempunyai anak-anak sehebat Hisyam dan Munirah. Mari kita sama-sama berazam dan berusaha untuk melahirkan generasi salafussoleh di zaman ini. Semoga kita semua dibantu Tuhan merealisasikannya dengan berkat Rasulullah saw dan para kekasih Tuhan!!

Keutamaan berzikir




Keutamaan berzikir
kepada yang terhormat bapak… dan temanku semua yang berbahagia di masjid at-tarbiyah ini.
Puji syukur kepada Allah, tuhan semesta alam yang telah menganugrahkan rahmad, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat berkumpul di masjid yang mulia ini, tanpa ada halangan apapun. Solawat dan salam tetap terlimpahkan kepada nabi Muhammad saw yang telah menuntun kita dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang-benerang, yaitu agama islam.
Jama’ah rohimakumullah.
Pada kesempatan kali ini saya akan menbawakan sebuah kultum yang dapat mengingatkan kita tentang keutamaan berdzikir.
Dzikir berarti ingat, pada dasarnya ia merupakan aktivitas hati, tetapi dzikir bisa juga dilakukan dengan lisan atau dengan kedua-duanya. Dan dzikir yang paling tinggi dan paling besar adalah dzikir yang dilakukan di dalam sholat, yang oleh Al-Qur’an dinyatakan dengan dzikrullahi akbar. Sebagaimana firman Allah swt. “dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari pada ibadah-ibadah yang lain.”
Jama’ah yang berbahagia.
Ibnu abbas berkata, bahwa dalam hal ini ada dua pendapat, pertama: berdzikit dengan menyebut nama Allah ta’ala dalam shalat, sungguh lebih besar pahalanya daripada mengingatnya di luar shalat. Kedua: sesungguhnya berdzikir mengingat Allah dengan shalat lebih besar pahalanya dari pada ibadah-ibadah yang lainnya.
Sebagai seorang yang beriman kita diperintahkan banyak-banyak mengingat dan menyebut asma Allah. Dengan mengingat Allah, akan mendekatkan diri dan kepada-Nya,dan kedekatan kepada-Nyaakan menimbulkan ketenangan, dan kebahagiaan hidup baik di dunia, maupun di akhirat.
Jama’ah rohimakumullah.
Banyak ayat-ayat Al-Qur’anyang memerintahkan kepada kita agar berdzikir yang sebanyak-banyaknya kepada Allah. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al-ahzab ayat 41
Yang artinya: “hai orang-orang yang beriman berdzikirlah dengan menyebut nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.”
Allah menyuruh kita untuk senantiasa berdzikir dimanapun dan kapanpun dengan menyebut nama Allah dalam hati dan merendahkan diri dengan rasa takut.
Dan Nabi saw bersabdah, “jika seorang hamba berdzikir kepadaku dalam dirinya, maka aku akan mengingatnya dalam diriku, jika ia berdzikir kepadaku dalam suatu majlis, tentu aku akan mengingaynya dalam majlis yang lebih mulia, jika ia mendekatku satu jengkal, maka aku akan mendekat padanya satu hasta, jika ia mendekat kepadaku satu hasta, maka aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan jika ia berjalan menuju kepadaku, maka aku akan berlari kepadanya.”
Jama’ah rohimakumullah
Kesimpulannya adalah berdzikir sangatlah penting bagi diri kita, untuk senantiasa mengingat kepada Allah. Supaya Allah pun senantiasa mengingat dan melindungi kita dimanapun kita berada.
Demikian penjelasan tentang perintah berdzikir, mengenai keutamaan-keutamaannya. Dan derajat bagi orang yang senantiasa berdzikit dan ingat kepada Allah swt di setiap saat hingga akhir hayatnya.
Jama’ah yang berbahagia.
Mengakhiri kultum dalam kesempatan yang mulia ini, semoga kita selalu mengingat dan berdzikir kepada Allah dan senantiasa menganugrahkan rahmad dan hidayah-Nya kepada kita. Amin
Demikian yang dapat saya sampaikan,
Apabila ada ucapan atau perbuatan,
Yang melebihi kekhilafan,
Saya mohon smudra kemaafan,
Semoga apa yang saya sampaikan,
Dapat bermanfaat bagi kita dan sebagai acuan kehidupan.
Wabillahi taufiq walhidayah, warridho al’inayah wassalamualaikum Wr. Wb.


Nasib Hidup Jomblo

by • 17/09/2014 • Pra Nikah • Comments (2) • 3047

Jomblo apa enaknya?
Jelas saja gak enak …
Bangun tidur, tidak ada yang bangunin.

Baju terus saja kusut, tidak ada yang setrikain.

Pagi hari bengong saja, tidak ada yang siapkan sarapan dan teh hangat.
Siang hari mesti keliling-keliling, tidak ada yang siapkan makan siang.
Dompet terus tipis, mesti jajan di luar.
Motor jadi kurang berkah, hanya ditumpangi satu orang.
Malam pun kasihan tidur sendirian … Hadeuuh.
—
Itulah nasib para jomblo.
Moga saja semakin terlecut untuk menikah.
Nikah itu enaknya cuma 5%.
Sisanya?
Enaaaaak bangeeeeeet.
Ayolah sempurnakah separuh agamamu.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي
“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)
Semoga Allah mudahkan para jomblo untuk segera mendapatkan pasangan yang diidam-idamkan.
—
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel RemajaIslam.Com
—

KEUTAMAAN DZIKIR KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA



KEUTAMAAN DZIKIR KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حَفِظَهُ الله تَعَالَى


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ ، فَأَنْبِئْنِيْ مِنْهَا بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ ؟ قَالَ : لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ

Dari ‘Abdullâh bin Busr Radhiyallahu anhu berkata, “Seorang Badui datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak pada kami. Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang kami bisa berpegang teguh kepadanya ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah lidahmu senantiasa berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (IV/188, 190); at-Tirmidzi (no. 3375). Beliau berkata, “Hadits ini hasan gharib.”; Ibnu Majah (no. 3793) dan lafazh ini miliknya. Ibnu Abi Syaibah (X/89, no. 29944); Al-Baihaqi (III/371)

Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibbân (no. 811-at-Ta’lîqâtul Hisân) dan al-Hâkim (I/495) dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Dishahihkan juga oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’is Shaghîr (no. 7700), Shahîh al-Kalimut Thayyib (no. 3), dan Shahîhut Targhîb wat Tarhîb (no. 1491)

SYARAH HADITS
Ibnu Hibban[1] meriwayatkan hadits ini dalam shahihnya dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau mati dalam keadaan lidahmu basah karena berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla .’”

Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kaum Mukminin untuk banyak berdzikir kepada-Nya dan Allâh memuji orang-orang yang banyak berdzikir. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allâh, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” [al-Ahzâb/33:41-42]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman.

وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

"... Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allâh, Allâh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.“[al-Ahzâb/33:35]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبَقَ الْمُفَرِّدُوْنَ قَالُوْا: وَمَا الْمُفَرِّدُوْنَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: اَلذَّاكِرُوْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ

"al-Mufarridûn telah mendahului.” Para sahabat berkata, “Siapa al-Mufarridûn wahai Rasûlullâh?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allâh.”[2]

Dari hadits di atas, terlihatlah makna al-mufarridun, yaitu orang yang terus-menerus berdzikir kepada Allâh dan menyukainya. Orang yang banyak berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla dengan ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla , mengikuti contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hatinya ingat kepada Allâh Azza wa Jalla dan batas-batas-Nya, maka dia termasuk orang yang bertakwa. Sahabat ‘Abdullâh bin Mas’ud Radhiyallahu anhu telah menjelaskan makna takwa ini pada saat beliau menafsirkan firman Allâh Azza wa Jalla, yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allâh dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya…” [Ali ‘Imrân/3:102]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

أَنْ يُطَاعَ فَلاَ يُعْصَى ، وَأَنْ يُذْكَرَ فَلاَ يُنْسَى ، وَأَنْ يُشْكَرَ فَلاَ يُكْفَرَ

Hendaklah Allâh itu ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak dikufuri.[3]

Contoh teladan kita adalah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla dalam setiap keadaannya. Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingat Allâh dalam setiap keadaannya.[4]

Salah seorang dari tujuh orang yang dinaungi Allâh Azza wa Jalla dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya diantaranya ialah orang yang berdzikir kepada Allâh di saat sendirian kemudian berlinanglah air matanya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

... وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ ...

“… Dan seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allâh di saat sendirian kemudian berlinanglah air matanya …”[5]

Hati orang-orang yang mencintai Allâh Azza wa Jalla tidak akan tenang kecuali dengan dzikir kepada-Nya dan jiwa orang-orang yang rindu kepada-Nya tidak tenang kecuali ingin berjumpa dengan-Nya. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan untuk berdzikir kepada-Nya dalam setiap keadaan dan memuji orang-orang yang berdzikir. Allâh Azza wa Jalla yang artinya, "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allâh sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari adzab neraka.’” [Ali ‘Imrân/3:191]

Bahkan Allâh Azza wa Jalla memerintahkan untuk berdzikir dalam jihad, berperang menghadapi musuh. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allâh banyak-banyak (berzikir dan berdo'a) agar kamu beruntung.” [al-Anfâl/8:45]

Allâh Azza wa Jalla juga memerintahkan dzikir sesudah shalat :

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ


Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allâh ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring…” [an-Nisâ’/4:103]

Yang dimaksud shalat pada ayat ini adalah shalat khauf (shalat pada saat takut). Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sungguh shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [an-Nisâ/4:103]

Allâh Azza wa Jalla juga memerintahkan berdzikir sesudah melaksanakan ibadah haji. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, "Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allâh, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu...” [al-Baqarah/2:200]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan juga berdzikir ketika kita sedang duduk atau berada di majelis.

مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لاَ يَذْكُرُ الله فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ

Barangsiapa duduk di suatu tempat, lalu tidak berdzikir kepada Allâh di dalamnya, pastilah dia mendapatkan kerugian dari Allâh, dan barangsiapa yang berbaring dalam suatu tempat lalu tidak berdzikir kepada Allâh, pastilah mendapatkan kerugian dari Allâh.[6]

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُ اللهَ فِيْهِ ، وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً ، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَلَهُمْ.

Apabila suatu kaum duduk di majelis, lantas tidak berdzikir kepada Allâh dan tidak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , pastilah ia menjadi kekurangan dan penyesalan mereka. Maka jika Allâh menghendaki, Dia akan menyiksa mereka dan jika menghendaki, Dia akan mengampuni mereka.”[7]

مَامِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً

Setiap kaum yang bangkit dari suatu majelis yang mereka tidak berdzikir kepada Allâh di dalamnya, maka selesainya majelis itu seperrti bangkai keledai dan hal itu menjadi penyesalan mereka (di hari Kamat).[8]

Allâh Azza wa Jalla juga memerintahkan berdzikir dengan dzikir yang banyak pada saat mencari nafkah dan sesudah shalat jum’at. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, "Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allâh dan ingatlah Allâh banyak-banyak agar kamu beruntung.” [al-Jumu’ah/62:10]

Pada ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menggabungkan antara usaha mencari karunia (mencari nafkah) dengan banyak dzikir kepada-Nya. Oleh karena itu, ada hadits tentang keutamaan dzikir di pasar-pasar dan tempat-tempat melalaikan seperti dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

مَنْ دَخَلَ السُّوْقَ فَقَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْـمُلْكُ وَلَهُ الْـحَمْدُ يُحْيِـيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ بِيَدِهِ الْـخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ، كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ

Barangsiapa memasuki pasar, sedang di dalamnya ada sesuatu yang diteriakkan dan diperjual-belikan kemudian berkata, ‘Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allâh saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya, kerajaan dan pujian milik-Nya. Dia menghidupkan, mematikan, Mahahidup, dan tidak mati. Seluruh kebaikan ada di Tangan-Nya dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,’ maka Allâh menulis baginya satu juta kebaikan, menghapus satu juta kesalahan darinya, dan mengangkat satu juta derajat baginya [9].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan yang besar dalam berdzikir di pasar, karena pasar adalah tempat yang banyak orang berbohong, menipu, sumpah palsu, dan maksiat-maksiat lainnya. Abu Ubaidah bin Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata, “Selama hati seseorang berdzikir kepada Allâh, maka ia berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar dia menggerakkan mulutnya, itu lebih baik.”[10]

DZIKIR SIANG DAN MALAM
Sebagaimana diketahui bahwa Allâh Azza wa Jalla mewajibkan kaum Muslimin berdzikir kepada-Nya setiap siang dan malam sebanyak lima kali dengan cara mendirikan shalat pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Selain kelima shalat tersebut, Allâh Azza wa Jalla mensyari’atkan mereka berdzikir sebanyak-banyaknya. Allâh Azza wa Jalla mensyari’atkan shalat agar manusia berdzikir kepada-Nya (mengingat Allâh) dan juga Allâh Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan shalat-shalat sunnah, dan mengisi waktu-waktunya dengan amal-amal yang wajib dan sunnah agar manusia senantiasa ingat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allâh, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [Thâha/20:14]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman yang artinya, "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur'ân) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allâh (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allâh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [al-‘Ankabût/29:45]

Al-Hâfizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini, “Maksudnya, shalat itu mencakup dua hal : (pertama) meninggalkan berbagai kekejian dan kemungkaran, artinya mengerjakan shalat dengan rutin bisa mengantarkan kepada sikap meninggalkan hal-hal tersebut... (kedua) shalat mencakup pula upaya mengingat Allâh Subhanahu wa Ta’ala , inilah tuntutan terbesar”[11]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya dalam shalat terdapat (dua hal): (Pertama) menolak sesuatu yang dibenci-yaitu perbuatan keji dan mungkar-, dan (Kedua) mewujudkan sesuatu yang dicintai, yaitu dzikir (mengingat) Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian, tercapainya sesuatu yang dicintai ini lebih besar daripada menolak hal yang dibenci tersebut. Karena dzikirullâh Subhanahu wa Ta’ala adalah suatu ibadah yang semata-mata karena Allâh, dan ibadah hati kepada Allâh adalah tujuan inti yang diinginkan. Adapun tertolaknya kejelekan dari hati, maka hal itu dimaksudkan karena selain-Nya, yaitu sebagai penyerta saja.”[12]

Maksudnya apabila ia ikhlas dalam berdzikir dan sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menimbulkan rasa takut kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , maka perbuatan keji dan munkar akan tertolak dari hatinya. Wallaahu a’lam.

Dzikir dengan lisan, disyariatkan di semua waktu dan disunnahkan di sebagian waktu dengan sunnah mu-akkadah (sunnah yang sangat ditekankan).

Dzikir-dzikir dilakukan dengan hati dan lisan. Hati mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dan lisan melafadzkan dzikir-dzikir tersebut, dan anggota tubuh melaksanakan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan menahan diri dari perbuatan dosa dan maksiat.

Misalnya, lafadz Lâ ilâha illallâh, seseorang yang mengucapkan lafadz ini harus tahu tentang makna Lâ ilâha illallâh, hatinya wajib meyakini bahwa Allâh satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi, semua sesembahan yang disembah oleh manusia adalah batil. Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Allâh. Kemudian seorang hamba wajib melaksanakan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allâh saja dan tidak boleh dipalingkan kepada selain Allâh.

Oleh karena itu, dzikir merupakan amal. Hal itu tampak dalam al-Qur'ân, bagaimana amal-amal shalih itu senantiasa disertai dzikir.

Lâ ilâha illallâh yang merupakan syahadat adalah dzikir paling afdhal (utama).

Di antara waktu berdzikir yang ditekankan ialah berdzikir setelah shalat wajib lima waktu yaitu berdzikir sebanyak seratus kali. Dzikirnya berbentuk tasbih yaitu membaca (33x) سُبْحَانَ الله , tahmîd yaitu membaca (33x) اَلْـحَمْدُلِلَّـه , takbir yaitu membaca (33x) اَللَّـهُ أَكْبَر , dan ditutup dengan

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْـمُلْكُ وَلَهُ الْـحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

Dzikir juga disunnahkan setelah shalat Shubuh dan shalat Ashar. Jadi, dzikir pagi disyariatkan setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit. Dzikir sore disyari’atkan sesudah shalat Ashar hingga matahari terbenam. Kedua waktu ini adalah waktu siang yang paling baik untuk berdzikir. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kaum Muslimin berdzikir di kedua waktu tersebut. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. [al-Ahzâb/33:42]

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang [al-Insân/76:25]

Juga firman-Nya, yang artinya, "…Dan sebutlah (nama) Rabb-mu banyak-banyak, dan bertasbihlah (memuji-Nya) pada waktu petang dan pagi hari.“ [Ali ‘Imrân/3:41]

Juga firman-Nya, yang artinya, "…Allâh mewahyukan kepada mereka, ‘Bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.’“ [Maryam/19:11]

Juga firman-Nya, yang artinya, "Maka bertasbihlah kepada Allâh pada petang hari dan pada pagi hari (waktu subuh).” [ar-Rûm/30:17]

Juga firman-Nya, yang artinya, " … Dan bertasbihlah seraya memuji Rabbmu pada waktu petang dan pagi.”[Ghâfir/40:55]

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya.

Dzikir yang paling baik yang dikerjakan di kedua waktu tersebut ialah sesudah shalat Shubuh dan shalat Ashar yang merupakan shalat paling utama, shalat Ashar yang disebut juga shalat wustha. Barangsiapa yang menjaga kedua shalat tersebut (Shubuh dan Ashar), maka ia masuk Surga. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْـجَنَّةَ

Barangsiapa yang menjaga kedua shalat (Shubuh dan Ashar) maka ia masuk Surga.[13]

Dzikir pagi sesudah shalat Shubuh dan dzikir sore sesudah shalat Ashar. Dzikir di kedua waktu ini lebih baik dari amal lainnya, kemudian sesudah (berdzikir) itu membaca al-Qur'ân. Dzikir-dzikir dan do'a-do'adi pagi dan sore hari yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak sekali.[14]

Waktu lainnya setelah kedua waktu tersebut ialah malam hari. Oleh karena itu, tasbih dan shalat malam hari disebutkan di al-Qur'ân setelah kedua waktu tersebut.

Jika setelah shalat Isya’ ia ingin tidur, ia disunnahkan tidur dalam keadaan suci dan berdzikir. Ia bertasbih, bertahmid, bertakbir, sebanyak seratus kali seperti diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu dan Fathimah Radhiyallahu anhuma. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh keduanya berbuat seperti itu jika hendak tidur, dilanjutkan dengan dzikir-dzikir menjelang tidur yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dzikir-dzikir menjelang tidur itu bervariasi, misalnya membaca al-Qur'ân, dan berdizkir kepada Allâh. Setelah itu, ia baru tidur.[15]

Jika ia bangun di tengah malam dan berubah posisi di ranjangnya, hendaklah ia berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla setiap kali ia berubah posisi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang bangun dari tidurnya kemudian berkata :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْـمُلْكُ وَلَهُ الْـحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْـحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allâh saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Kerajaan dan pujian milik-Nya, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allâh, segala puji bagi Allâh, tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allâh, Allâh Maha Besar, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allâh

، ثُمَّ قَالَ : رَبِّ اغْفِرْلِيْ ، أَوْ قَالَ : ثُمَّ دَعَا اسْتُجِيْبَ لَهُ ، فَإِنْ عَزَمَ وَتَوَضَّأَ ، ثُمَّ صَلَّى قُبِلَتْ صَلاَتَهُ .

Kemudian berkata, ‘Ya Allâh, ampunilah aku,’ –atau beliau bersabda, kemudian ia berdo'a-, maka do'anya dikabulkan. Jika ia berwudhu kemudian shalat, maka shalatnya diterima.”[16]

Seorang suami bangun untuk shalat malam kemudian dia membangunkan istrinya untuk shalat maka keduanya termasuk orang yang banyak berdzikir . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا –أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا- كُتِبَ مِنَ الذَّاكِرِيْنَ الله كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ.

Apabila seorang suami membangunkan istrinya di malam hari, lalu keduanya shalat –atau masing-masing melakukan shalat dua rakaat- maka keduanya dicatat sebagai laki-laki dan wanita yang banyak mengingat Allâh.[17]

Kemudian selesai tahajjud dan witir hendaknya beristighfar pada waktu sahur, karena Allâh Azza wa Jalla memuji orang-orang yang beristighfar di waktu sahur.

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar. [Ali ‘Imrân/3:17]

Jika fajar telah terbit, ia mengerjakan shalat sunnah dua rakaat kemudian mengerjakan shalat Shubuh. Setelah itu, ia sibuk dengan dzikir yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai matahari terbit seperti telah disebutkan.

Barangsiapa kondisinya seperti itu, maka lidahnya tidak henti-hentinya basah oleh dzikir kepada Allâh Azza wa Jalla . Ia berdzikir ketika hendak tidur, ketika badan berbolak-balik di tempat tidur, kemudian mulai berdzikir lagi ketika bangun tidur. Ini bukti kebenaran cinta kepada Allâh Azza wa Jalla .

Dan urusan agama dan dunia yang pertama kali dikerjakan seseorang di pertengahan malam dan siang, maka sebagian besar darinya disyariatkan dzikir dengan nama Allâh. Dzikir dengan nama Allâh dan memuji-Nya disyariatkan ketika ia makan, minum, berpakaian, melakukan hubungan suami-istri, masuk rumah, keluar rumah, masuk dan keluar kamar mandi, naik kendaraan, menyembelih, dan lain sebagainya.

Ia disyariatkan memuji Allâh Azza wa Jalla ketika bersin, berlindung dan memohon keselamatan ketika melihat orang-orang yang diuji dalam agama dan dunia, mengucapkan salam ketika bertemu dengan orang Muslim, menjenguk dan mendo'akan mereka ketika sakit, memuji Allâh Azza wa Jalla ketika mendapatkan nikmat baru yang ia sukai dan hilangnya sakit yang dibencinya. Yang paling sempurna dari itu semua adalah ia memuji Allâh pada saat suka, duka, krisis, dan dapat rezeki. Jadi ia memuji Allâh dalam semua keadaan dan kondisi.

Ia disyariatkan berdzikir dan berdo'a kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ketika masuk pasar, mendengar suara kokok ayam di malam hari, mendengar petir, hujan turun, angin bertiup kencang, melihat bulan, dan melihat pohon pertama kali berbuah.

Ia juga disyari’atkan berdzikir dan berdo'a kepada Allâh ketika sakit, mendapatkan musibah, ketika akan keluar untuk bepergian, berhenti di tempat-tempat dalam perjalanannya dan ketika tiba dari perjalanan dan dzikir-dzikir lainnya.

Ia disyariatkan berlindung kepada Allâh ketika marah, melihat sesuatu yang tidak disukainya di dalam mimpinya, mendengar suara anjing dan keledai di malam hari.

Ia disyariatkan istikhârah (meminta pilihan) kepada Allâh ketika menginginkan sesuatu yang ia belum memiliki pilihan di dalamnya.

Seorang Muslim diwajibkan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk segera bertaubat kepada-Nya dan istighfar dari seluruh dosa, dosa-dosa besar maupun kecil. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allâh, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allâh ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imrân/3:135]

Barangsiapa melakukan dzikir mulai bangun tidur sampai ia tidur kembali, dan ia melakukan semua itu dengan konsisten, ikhlas dan ittiba’ kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka lidahnya akan terus menerus basah oleh dzikir kepada Allâh dalam semua kondisi.

Seorang Mukmin hendaknya menggunakan waktunya sebaik mungkin untuk beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla, berdo’a, berdzikir, mencari nafkah, menuntut ilmu, dan lainnya. Dan yang paling mudah yaitu berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla , karena seorang Mukmin dapat berdzikir dimana saja dan kapan saja bisa dilakukan ketika ia berjalan, berkendaraan, naik bis, kereta, ketika menunggu bis dan kereta atau angkutan umum. Lisan ini harus selalu basah dengan berdzikir kepada Allâh kepada setiap waktu dan hal ini mudah dan ringan, bisa dilakukan oleh setiap Mukmin dan Mukminah. Bahkan seorang mukminah dia bisa berdzikir ketika menggendong anaknya, menyusui anaknya, atau ketika masak dan lainnya.

KEUTAMAAN DZIKIR
Dengan dzikir, hati akan menjadi tenang. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allâh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allâh hati menjadi tentram. [ar-Ra’d/13:28]

Diriwayatkan dari Abu Darda’ Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُُنَبِّئُكُمْ بِخَيرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ ؟ قَالُوْا : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ! قَالَ : (( ذِكْرُاللهِ تَعَالَى))

Maukah kamu aku tunjukkan amalan yang terbaik dan paling suci di sisi Rabbmu, dan paling mengangkat derajatmu, lebih baik bagimu daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?” Para sahabat yang hadir berkata, “Mau wahai Rasûlullâh!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dzikir kepada Allâh Yang Maha Tinggi.”[18]

Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ ، مَثَلُ الْـحَيِّ وَ الْـمَيِّتِ

Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya adalah seperti perbedaan antara orang yang hidup dengan orang yang mati [19]

FAEDAH ATAU MANFAAT DZIKIR (MENGINGAT ALLAH AZZA WA JALLA)
Manfaat dzikir kepada Allâh Azza wa Jalla banyak sekali, di antaranya yaitu:
1. Mengusir setan, menundukkan dan mengenyahkannya.
2. Menghilangkan kesedihan dan kemuraman dari hati.
3. Mendatangkan kegembiraan dan kesenangan dalam hati.
4. Melapangkan rizki dan mendatangkan barakah.

5. Membuahkan ketundukan, yaitu berupa kepasrahan diri kepada Allâh dan kembali kepada-Nya. Selagi dia lebih banyak kembali kepada Allâh dengan cara berdzikir, maka dalam keadaan seperti apapun dia akan kembali kepada Allâh dengan hatinya, sehingga Allâh menjadi tempat mengadu dan tempat kembali, kebahagiaan dan kesenangannya, tempat bergantung tatkala mendapat bencana dan musibah.

6. Membuahkan kedekatan kepada Allâh Azza wa Jalla . Seberapa jauh dia melakukan dzikir kepada Allâh, maka sejauh itu pula kedekatannya kepada Allâh, dan seberapa jauh ia lalai melakukan dzikir, maka sejauh itu pula jarak yang memisahkannya dari Allâh.

7. Membuat hati menjadi hidup. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, "Dzikir bagi hati sama dengan air bagi ikan, maka bagaimana keadaan yang akan terjadi pada ikan seandainya berpisah dengan air ??? "

8. Membersihkan hati dari karatnya, karena segala sesuatu ada karatnya dan karat hati adalah lalai dan hawa nafsu. Sedang untuk membersihkan karat ini adalah dengan taubat dan istighfar.

9. Hamba yang mengenal Allâh, dengan cara berdo'adan berdzikir saat lapang, maka Allâh akan mengenalnya disaat ia menghadapi kesulitan.

10. Menyelamatkannya dari adzab Allâh sebagaimana yang dikatakan Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu anhu dan dia memarfu'kannya " Tidak ada amal yang dilakukan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari adzab Allâh, selain dari dzikir kepada Allâh Azza wa Jalla "[20].

11. Menyebabkan turunnya ketenangan, datangnya rahmat dan para Malaikat mengelilingi orang yang berdzikir, sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

12. Menyibukkan lisan dari melakukan ghibah, adu domba, dusta, kekejian dan kebathilan.

Sudah selayaknya bagi seorang hamba untuk berbicara yang baik, jika bicaranya bukan dzikir kepada Allâh, tetapi berupa hal-hal yang diharamkan ini, maka tidak ada yang bisa menyelamatkannya kecuali dengan dzikir kepada Allâh.

Cukup banyak pengalaman dan kejadian yang membuktikan hal ini. Siapa yang membiasakan lidahnya untuk berdzikir, maka lidahnya lebih terjaga dari kebathilan dan perkataan yang sia-sia. Namun siapa yang lidahnya tidak pernah mengenal dzikir, maka kebathilan dan kekejian banyak terucap dari lidahnya.

13. Dzikir memberikan rasa aman dari penyesalan di hari kiamat. Karena majlis yang didalamnya tidak ada dzikir kepada Allâh, maka akan menjadi penyesalan bagi pelakunya pada hari kiamat.

14. Dzikir merupakan ibadah yang paling mudah, namun paling agung dan paling utama. Sebab gerakan lidah merupakan gerakan anggota tubuh yang paling ringan dan paling mudah. Andaikan ada anggota tubuh lain yang harus bergerak, seperti gerakan lidah selama sehari semalam, tentu ia akan kesulitan melaksanakannya dan bahkan tidak mungkin.[21]

Mudah-mudahan Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk dari hamba-hamba yang ikhlas dan banyak berdzikir yang sesuai dengan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Shahih: HR. Ibnu Hibbân (no. 815-at-Ta’lîqâtul Hisân).
[2]. HR. Muslim (no. 2676).
[3]. Atsar shahih: HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 8502), al-Hâkim (II/294), Ibnu Jarîr dalam Tafsîr ath-Thabari (III/375-376), dan Ibnu Katsîr dalam Tafsîrnya (II/87).
[4]. Shahih: HR. Muslim (no. 373), Abu Dâwud (no. 18), at-Tirmidzi (no. 3384), dan selainnya.
[5]. Shahih: HR. al-Bukhâri (no. 660), Muslim (no. 1031), at-Tirmidzi (no. 2391), dan Ahmad (II/439).
[6]. Shahih: HR. Abu Dâwud (no. 4856); Shahîh Abi Dâwud (III/920, no. 4065) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[7]. Shahih: HR. at-Tirmidzi (no. 3380), Ahmad (II/446, 453, 481) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 74).
[8]. Shahih: HR. Abu Dâwud (no. 4855), Ahmad (II/389), al-Hâkim (I/492), dan lainnya. al-Hâkim berkata, “Bahwa hadits ini shahih menurut syarat Muslim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi.” Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 77) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[9]. HR. Ahmad (I/47), at-Tirmidzi (no. 3428, 3429), Ibnu Mâjah (no. 2235), ad-Dârimi (II/293), al-Baghawi (no. 1338), ath-Thabrani dalam ad-Du’â (no. 792-793) dari Shahabat ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhuma. Dishahihkan oleh al-Hâkim (I/538) dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 3139).
[10]. Hilyatul Auliyâ’ (IV/227).
[11]. Lihat Tafsîr Ibni Katsîr (VI/280-282) dengan diringkas.
[12]. al-‘Ubûdiyyah (hlm. 120-121), tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi.
[13]. Shahih: HR. Muslim (no. 635).
[14]. Baca buku Penulis Do’a dan Wirid, Pustaka Imam asy-Syafi’i, cet ke-12, Jakarta.
[15]. Baca buku Penulis Do’a dan Wirid dan Dzikir Pagi dan Petang, Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta.
[16]. Shahih: HR. at-Tirmidzi (no. 3414), Ibnu Mâjah (no. 3878).
[17]. Shahih: HR. Abu Dâwud (no. 1309) dan Ibnu Mâjah (no. 1335) dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu. Syaikh al-Albani berkata dalam Takhrîj Hidâyatir Ruwât (II/49, no. 1194), “Isnadnya shahih. Dishahihkan oleh al-Hâkim, adz-Dzahabi, an-Nawawi, dan al-‘Iraqi.
[18]. Shahih: HR. at-Tirmidzi (no. 3377), Ibnu Mâjah (no. 3790), dan al-Hâkim (I/ 496) dari Shahabat Abu Darda’ Radhiyallahu anhu. Lafazh hadits ini lafazh at-Tirmidzi. Dishahihkan oleh al-Hâkim dan disetujui oleh adz-Dzahabi.
[19]. Shahih: HR. al-Bukhâri (no. 6407)/Fathul Baari (XI/208).
[20]. HR. Ahmad (V/239).
[21]. Diringkas dari Shahîh al-Wâbilus Shayyib karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, takhrij Syaikh Slaim bin ‘Ied al-Hilali. Lihat juga buku Penulis Do’a dan Wirid, Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta.