Haruskah Pernikahan Didasari Rasa Cinta?
Kisah Nyata Akhwat Gorontalo
Seorang akhwat menceritakan kenangan masa lalunya yang tak terlupakan:
“Namaku Mariani, orang-orang biasa
memangilku Aryani. Ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari
ini masih belum lengkang dalam benakku. Sebuah kisah yang nyaris
membuatku menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani
mengambil sikap. Yah, sebuah perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri
takjub dibuatnya, sebab aku sendiri menyangka bahwa di dunia ini mungkin
tak ada lagi orang seperti dia.
Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang
tuaku menikah dengan seorang pria, Kak Arfan namanya. Kak Arfan adalah
seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan
kakakku saat sekolah dulu. Usia kami terpaut 4 Tahun. Yang aku tahu
bahwa sejak kecilnya Kak Arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya
dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu terbawa-bawa sampai
ia dewasa. Aku merasa risih sendiri dengan Kak Arfan apabila berpapasan
dijalan, sebab sopan santunya sepertinya terlalu berlebihan pada
orang-orang. Geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget gelagatnya…,
Setiap ada acara-acara ramai di kampung
pun Kak Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya.
Yaah, pasti kalau dicek ke rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti
menjawab “Kak Arfan di mesjid nak, menghadiri taklim”. Dan memang mudah
sekali mencari Kak Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota
Gorontalo.
Kak Arfan sering menghabiskan waktunya
membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya di kebun
atau di sawah. Meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan
potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan. Secara fisik
memang Kak Arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya
yang pas-pasan. Sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau
Kak Arfan dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara di desa.
Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang
biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah
sosok yang tidak istimewa. Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan
kampunga banget. Kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada
orang yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikitpun
ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada. Selain bantu orang
tua, pasti kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali ke kerja lagi.
Seolah riang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, ke
biosokop kek, ngumpul bareng teman-teman kek stiap malam minggunya di
pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam
kamisnya. Apalagi setiap malam kamis dan malam minggunya ada acara
curhat kisah yang TOP banget disebuah station Radio Swasta digotontalo,
kalau tidak salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya
juga Satrio Herlambang.
Waktu terus bergulir dan seperti
gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran,
akupun demikian. Aku sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku
cintai, namanya Boby. Masa-masa indah kulewati bersama Boby. Indah
kurasakan dunia remajaku saat itu. Kedua orang tua Boby sangat
menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas
hubungan kami. Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang pria
yang sudah sangat aku kenal. Yah siapa lagi kalau bukan si kuper Kak
Arfan lewat pamanku. Orang tuanya Kak Arfan melamarku untuk anaknya yang
kampungan itu.
Mendengar penuturan mama saat
memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap,
kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-kencangnya menolak permintaan
lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan langsung pada
kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya Kak Arfan. dan
dengan terang-terangan pula aku sampaikan pula bahwa aku memiliki
kekasih pujaan hatiku, Boby.
Mendengar semua itu ibuku shock dan
jatuh tersungkur kelantai. Akupun tak menduga kalau sikapku yang egois
itu akan membuat mama shock. Baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama
shok itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang
tuanya Kak Arfan. Hatiku sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu.
Aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak
tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatiku Boby.
Hatiku sedih saat itu. Dengan berat hati
dan penuh kesedihan aku menerima lamaran Kak Arfan untuk menjadi
istrinya dan kujadikan malam terakhir perjumapaanku dengan Boby di
rumahku untuk meluapkan kesedihanku. Meskipun kami saling mencintai,
tapi mau tidak mau Boby harus merelakan aku menikah dengan Kak Arfan.
Karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga
saat itu.
Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya
pernikahanku pun digelar. Aku merasa bahwa pernikahan itu begitu
menyesakkan dadaku. Air mataku tumpah di malam resepsi pernikahan itu.
Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah
yang paling tersiksa. Karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah
dengan lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan yang paling membuatku
tak bias menahan air mataku, mantan kekasihku boby hadir juga pada
resepsi pernikahan tersebut. Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi
padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?
Waktu terus berputar dan malam pun
semakin merayap. Hingga usailah acara resepsi pernikahan kami. Satu per
satu para undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah kami. Saat masuk
ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan di dalamnya. Dan
sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku
pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya
menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku. Aku
bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan
diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur.
Tiba-tiba di sepertiga malam, aku
tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang
tidurku. Dadaku berdegup kencang. Aku hampir saja berteriak histeris,
andai saja saat itu tak kudengar serua takbir terucap lirih dari sosok
yang berdiri itu. Perlahan kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok
yang berdiri di sampingku itu adalah Kak Arfan suamiku yang sedang
sholat tahajud. Perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku
membelakanginya yang saat itu sedang sholat tahajud. Ya Allah aku lupa
bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Arfan. Tapi meskipun
demikian, aku masih tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Saat
itu karena masih dibawah perasan ngantuk, aku pun kembali teridur.
Hingga pukul 04.00 dini hari, kudapati suamiku sedang tidur beralaskan
sajadah dibawah ranjang pengantin kami.
Dadaku kembali berdetak kencang kala
mendapatinya. Aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami. Tapi ada
sebuah pertanyaaan terbetik dalam benakku. Mengapa dia tidak tidur di
ranjang bersamaku. Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia
tidur seranjang denganku itukan logikanya. Ada apa ini? ujarku perlahan
dalam hati. Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu Kak Arfan
kecapekan sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan
kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi apa peduliku dengan itu semua,
toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam hati.
Hari-hari terus berlalu. Kami pun mejalani aktifitas kami masing-masing, Kak
Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya.
Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya.
Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan
yang tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami
itu hanya terjadi malam pernikahan kami. Tapi ternyata yang terjadi
hampir setiap malam sejak malam pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur
beralaskan permadani di bawah ranjang atau tidur di atas sofa dalam
kamar kami. Dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku.
Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu
mafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku
butuhan. Tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali
mengungkit- ungukitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah
kufahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu
kamar, Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah
menyetuhku.
Ada apa dengan Kak Arfan? Apakah dia
lelaki normal? kenapa dia begitu dingin padaku? apakah aku kurang di
matanya? atau? pendengar, jujur merasakan semua itu, membuat banyak
pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Ada apa dengan suamiku? bukankah
dia adalah pria yang beragama dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara
lahir dan batin adalah kewajibannya? ada apa dengannya? padahal setiap
hari dia mengisi acara-acara keagamaan di mesjid. Dia begitu santun pada
orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orangtuanya. Bahkan terhadap
aku pun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah,
tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar dan berkata-kata keras
padaku. Bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku.
Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu
nafkah batinku. Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari
yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan
membuatku perlahan-lahan melupakan masa laluku bersama Boby. Aku bahkan
mulai merindukannya tatkala dia sedang tidak dirumah. Aku bahkan selalu
berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia
anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni
mulai memakai busana muslimah yang syar’i.
Memang dua hari setelah pernikahan kami,
Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar. Semula aku
mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah
kubuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima
buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, lima buah kaos
kaki tebal panjang berwarnah hitam dan lima pasang manset berwarna gelap
pula. Jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada
dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seorang ustadz.
Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya. Ternyata
dugaanku salah sama sekali. Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya
atau ditanyakannya.
Kini aku mulai menggunakannya tanpa
paksaan siapapun. Kukenakan busana itu agar diatahu bahwa aku mulai
menganggapnya istimewa. Bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam
mengajipun sudah mulai aku ikuti. Kadang ceramah-ceramahnya di mesjid
sering aku ikuti dan aku praktekan di rumah.
Tapi satu yang belum bisa aku mengerti
darinya. Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami dia tidak
pernah menyentuhku. Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu
mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan permadani dibawah
ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam, lalu melaksanakan sholat
tahajud. Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit. Tubuhnya demam dan
panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya.
Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan
menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya Allah..apa yang
harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi
apa yang harus saya lakukan ya Allah..
Malam itu aku tidur dalam kegelisahan.
Aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak.
Kudengar Kak Arfan pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu
panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu
dingin, hujan sangat deras disetai angin yang bertiup kencang. Kasihan
Kak Arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan aku
bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas.
Kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur kekakinya. Ingin sekali aku
merebahkan diriku di sampingnya atau sekedar mengompresnya. Tapi aku tak
tahu bagaimana harus memulainya. Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan
keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba suhu
panas tubuhnya.
Tapi baru beberapa detik tanganku
menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak
menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek, kau belum tidur? kenapa
ada di bawah? nanti kau kedinginan? ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur
lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta kak Arfan
padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu. Dadaku sesak, mengapa Kak
Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang lain.
Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali untukku. Tanpa kusadari air
mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan dengan
teriakan. Hingga akhirnya gemuruh di hatiku tak bisa kubendung juga.
”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? kau bahkan tak
pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? bukankah aku ini istrimu? bukankah aku telah halal buatmu? lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? apa artinya diriku bagimu kak? apa artinya aku bagimu kak? kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.
pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? bukankah aku ini istrimu? bukankah aku telah halal buatmu? lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? apa artinya diriku bagimu kak? apa artinya aku bagimu kak? kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.
Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan
menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak
adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di
dinding kamar kami. Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar
padaku:
”Dek, jangan kau pernah bertanya
pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu
sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri.
Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak? kakak tahu dan
kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kaka selama
ini begitu dingin padamu. Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya
baru kakk kabarkan padamu malam ini. Kau mau tanyakan apa maksud kakak
sebenarnya dengan semua ini?” ujar Kak Arfan dengan agak sedikit gugup.
“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini pada saya? tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.
“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu
pelacur? dan apa pekerjaan seorang pelacur? afwan dek dalam pemahaman
kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya
melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa
peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan
seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus
melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak
merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak
ingin hal itu terjadi padamu dek.
Kau istriku dek, betapa bejatnya
kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat
malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama
sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan
birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu
bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum
pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi
undangan Bapakmu. Tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu,
kaka melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau
lampiaskan pada kekasihmu boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak
mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan
mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah mermpas
kebahagiaanmu.
Kakak yakin bahwa kau menerima
pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat
di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan
bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang
kau rasakan saat itu. Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak
menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara
kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa
melayani kakak?
Kau istriku dek, sekali lagi kau
istriku. Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua
itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak
merasa diperkosa hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang kita
lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai
kaka. Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan
kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah
menggunakan busana muslimah yang syar’i. Pinta kakak padamu dek,
luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk
menyenangkan hati kakak semata. Maka sekarang luruskan niatmu, niatkan
semua itu untuk Allah ta’ala selanjutnya untuk kakak.”
Mendengar semua itu, aku memeluk
suamiku. Aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai
selama hidupku. Aku bahkan telah melupakan Boby. Aku merasa bahwa malam
itu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia. Sebab meskipun
dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak Arfan mendatangiku
sebagai seorang suami. Hari-hari kami lalui dengan bahagia. Kak arfan
begitu sangat kharismatik. Terkadang dia seperti seorang kakak buatku
dan terkadang seperti orang tua. Darinya aku banyak belajar banyak hal.
Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan menggunakan busana yang
syar’i, semata-mata karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku.
Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku
telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua. Alhamdulillah, aku sangat
bahagia bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama. Hari
demi hari kami lalui dengan kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih
dari apa yang aku bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan tindakan
bodoh dengan menolak pinangannya. Aku fikir kebahagiaan itu akan
berlangsung lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta
kami berdua
Di akhir tahun 2008, Kak Arfan
mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang. Sebab Kak Arfan
meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut. Aku
sangat kehilangannya. Aku seperti kehilangan penopang hidupku. Aku
kehilangan kekasihku. Aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku.
Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu
singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir kehidupannya Kak Arfan,
dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku:
“Dek.. pertemuan dan perpisahan itu
adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau
lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik. Jadikan
dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi
yang terbaik untuk ummat. Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan
dia.
Satu permintaan kakak.., kalau suatu
saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang
tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.
Maafkan kakak Dek.., bila selama
bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu.
Senantiasalah berdoa.., kalau kita berpisah di dunia ini..Insya Allah
kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak . Kalau Allah mentakdirkan
kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya Allah kakak akan
senantiasa menantimu..”
Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan
meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin. Wasallam”
meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin. Wasallam”
NB : Kisah Nyata dari Akhwat di Gorontalo, Sulawesi Utara
Sumber:
http://januarpambudi.blogspot.com/2012/08/kisah-akhwat-gorontalo.html
via
http://abul-harits.blogspot.com/2013/05/kenapa-kau-meninggalkanku-di-saat-ku.html
dengan sedikit perubahan
Dipublikasikan kembali oleh: www.KisahIslam.net
Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam
0 comments:
Post a Comment